isiantar.com – Tak pernah merasakan fasilitas latihan yang layak, juga dengan asupan nutrisi yang jauh dari proporsional, tidak menyurutkan semangat Ramli Pasaribu untuk terus menorehkan prestasi di bidang olahraga.
Ramli Pasaribu adalah alit tinju asal kota kecil Pematangsiantar, Sumatera Utara, yang akan bertarung memperebutkan sabuk tinju IBC Asia Pacific kelas ringan 58,9 Kg dari petinju Jepang, Sotayokawa, yang akan digelar 8 Oktober 2018 mendatang, di Jepang.
Selama ini, Ramli sering berlatih di kawasan terminal Tanjung Pinggir — sebuah terminal angkutan yang sunyi sepi karena bertahun-tahun tidak dioperasikan di salah satu sudut kota Pematangsiantar — atau di sebuah lahan kosong dekat rumahnya, di Jalan Tambun Timur, Kelurahan Tambun Nabolon.
Walau dengan alat latihan seadanya, Ramli yang ditemui isiantar.com Minggu sore (30/9/2018) merasa optimis akan memenangkan kejuaran tersebut. Sore itu Ramli sedang berlatih bersama teman-temannya yang bergabung di sasana Anak Bangsa Boxing Camp. Tapi ada yang unik, sebab Ramli dalam mematangkan skill nya sore itu justru dengan melakukan pertandingan persahabatan dengan atlit Wushu dan atlit Tinju dari sasana yang ada di kabupaten Simalungun, tanpa ring.
“Ramli kurang mendapat lawan tanding dalam latihan. Untuk mematangkan skillnya, kita mencoba mengadu Ramli dengan atlit wushu dan muathay,” ungkap Jumadi, salah satu pelatih di sasana Anak Bangsa Boxing Camp.
Seluruh atlit tinju yang tergabung di sasana itu termasuk pelatih, berjumlah 10 orang. Walau sudah sering bertanding di tingkat profesional, bahkan telah memboyong sejumlah prestasi, karena ketiadaan sokongan dari pihak luar mereka masih berlatih dengan peralatan “kampung”, tanpa ring tinju.
“Ya seadanya, tapi kita punya tiga atlit andalan, semuanya bermain di tinju profesional dan sudah bermain di tingkat Asia,” kata Jumadi yang sangat berharap Ramli akan memenangkan pertandingan di Jepang nanti.
Santuni Anak Yatim Sebelum ke Jepang
Ditengah kesulitan ekonomi yang masih menderanya, Ramli masih menyempatkan diri untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim.
Sore sehabis latihan tersebut, petinju yang sehari-harinya menafkahi keluarganya dengan menjadi buruh di salah satu kilang padi ini, menyempatkan menggelar syukuran sederhana dengan menyantuni sekitar 20 orang anak yatim.
Petinju Senior Siantar Merasa Sedih Lihat Fasilitas Latihan Ramli
Harjanto Saragih Sumbayak, petinju nasional asal Siantar yang sudah menggantung sabuk tinjunya yang juga ikut mendampingi kesiapan Ramli bertarung di Jepang nanti, pada kesempatan itu turut menyayangkan fasilitas latihan yang cuma seadanya.
“Siantar sebenarnya penghasil atlit khususnya Tinju. Tapi sayang tidak ada yang bisa menjadi bapak angkat,” ujar Harjanto berharap adanya sosok mapan yang mau memberi perhatian serius untuk kemajuan olahraga tinju di Pematangsiantar.

Kenang Harjanto, di masa dirinya masih aktif sebagai petinju, Siantar Hotel yang memfasilitasi perlengkapan latihan mereka, termasuk ring tinju. “Sekarang, sudah tidak ada lagi yang mampu,” ucapnya sedih.
Harjanto berharap, sekalipun bukan untuk mengurusi kelas profesional, seandainya saja KONI atau Dispora mau menyediakan fasilitas latihan tinju untuk mengukir kembali kejayaan prestasi tinju siantar yang mampu bermain di tingkat internasional.
“Contohnya Ramli ini, satu-satunya petinju Sumatera Utara yang bermain ditingkat Asia Pasifik,” kata Harjanto menyebut bahwa semangat bertarung para atlit tinju Siantar tidak semata untuk si atlit saja, tetapi juga karena ada impian yang dalam untuk mengharumkan nama Pematangsiantar dan negara Indonesia. [ry]
Berikut cuplikan saat Ramli Pasaribu berlatih dengan tanding persahabatan melawan atlit wushu asal Simalungun. Ramli mengenakan headgear (penutup kepala):




















