isiantar.com – Kasus pencabulan terhadap tujuh anggota pramuka yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terjadi di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, menjadi sorotan khalayak ramai.
“Itu pelakunya harus dihukum berat. Tujuannya sekaligus agar tidak ada lagi kejadian seperti itu di kota ini,” ujar Henry Dunan Sinaga, salah seorang anggota DPRD Kota Pematangsiantar, asal Partai Gerindra, Rabu pagi (19/7/2017).
Informasi dihimpun isiantar.com, kasus sodomi atau pemerkosaan sesama jenis terungkap setelah salah seorang korban memberitahukan peristiwa yang menimpanya kepada orangtuanya, yang kemudian oleh orangtuanya ditindaklanjuti dengan membuat laporan pengaduan ke polisi.
“Salah satu korbannya bercerita kepada orangtuanya telah disodomi pelaku,” Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Polres Siantar, Aiptu Malon Siagian, di Polres Siantar, Selasa (18/7/2017).
Pelaku berinisial ASL yang disebut masih tercatat sebagai mahasiswa semester VII jurusan ekonomi di salah satu Universitas Negeri di Kota Medan, diduga telah mencabuli 7 bocah laki-laki dikediamannya di Jalan Rajamin Purba, Kelurahan Bukit Sofa, Siantar Sitalasari, Pematangsiantar. Ketujuh korbannya merupakan juniornya di organisasi Pramuka salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Pematangsiantar.
Modus pelaku adalah dengan berkata ingin mengecek apakah di tubuh korbannya ada varises. Varises ialah pembesaran atau pelebaran pembuluh darah vena yang terletak tepat di bawah permukaan kulit biasanya terjadi pada kaki, yang bisa dilihat dengan kasat mata.
“Pelaku mengajak ke rumah dengan alasan ambil barang. Sampai di rumah, baju korbannya dibuka. Caranya berbeda-beda, terkadang jari dan alat kelamin dimasukkan ke lubang pencernaan korban. Ada juga disuruh memegang kelamin pelaku,” jelas Malon.
Selain meminta agar pelaku dihukum berat, Henry Dunan Sinaga juga meminta pihak-pihak terkait untuk memikirkan cara penanggulangan dampak psikologi atau trauma yang dialami para korbannya.
Sementara informasi terakhir yang dihimpun isiantar.com, Rabu (19/7/2017), pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut sebab ada kemungkinan korban pelaku lebih dari tujuh orang. [dik]




















