isiantar.com – Menjelang perayaan Natal Wartawan Kota Pematangsiantar, panitia natal mendatangi kediaman dua keluarga kurang mampu yang memiliki anggota keluarga yang menderita sakit parah, untuk memberikan bantuan, Sabtu (15/12/2018).
Yang pertama disinggahi ialah kediaman pasangan suami istri Mujiman (67) dan Suratmi (66) di Jalan Hati Rongga, Nagori Pematang Simalungun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.
Pasutri ini mempunyai empat anak yang menderita lumpuh layu. Keempat anak itu, Suwito (38), Adi (30), Rian (25) dan Sanrol (23), juga tak bisa berbicara sama sekali. Empat bersaudara ini hanya bisa merangkak. Untuk makan, minum, ganti baju hingga hal yang berkaitan mandi, dan buang air, harus mengandalkan bantuan ayah dan ibunya.
Kehadiran puluhan wartawan yang tergabung dalam panitia natal disambut haru pasutri tersebut. Pemberian bantuan turut disaksikan kepala dusun, Amiruddin Damanik, yang juga datang ke rumah tersebut. Sementara keempat anak itu hanya duduk dan berbaring di lantai dengan ekspresi seolah tidak paham benar apa yang terjadi.
Sang ayah, Mujiman, mengatakan, bahwa ia memiliki 9 orang anak, 4 diantaranya perempuan. Semua anak perempuannya tumbuh sehat dan sudah menikah. Namun untuk urusan ekonomi, juga masuk katagori kurang mampu.
Mujiman yang juga sedang sakit itu menjelaskan, satu anaknya laki-laki telah terlebih dahulu meninggal dunia. Dimulai dari demam tinggi dan saat itu tidak ada biaya berobat — fisiknya sama dengan 4 orang anaknya yang masih hidup yang sekarang lumpuh layu.
Untuk menghidupi anak-anaknya, Mujiman bekerja di salah satu doorsmeer (tempat pencucian kendaraan) di kawasan Tanjung Pinggir. Namun saat kurang sehat karena faktor usia, maka mata pencaharian tidak ada.
Kepada rombongan panitia natal yang datang Suratmi menuturkan, bahwa, saat dilahirkan keempat anaknya yang seluruhnya laki-laki itu dalam kondisi fisik normal. “Waktu lahir normal, sehat. Tapi sewaktu berusia 2 bulan, kakinya mulai membengkok,” ungkapnya.
Suratmi tidak mengetahui persis penyakit apa yang diderita anak-anaknya itu, “nggak tahu sakit apa. Dulu orang ini juga diimunisasi dan kuberi vitamin”.
“Sebenarnya mereka ini ada lima orang, tapi anak kedua, namanya Hamzah, sudah meninggal. Penyakitnya sama. Mau makan, buang air kecil atau buang air besar, di sini sajalah. Nggak bisa ke mana-mana,” lanjutnya.

Tak banyak yang bisa dilakukan Suratmi. Untuk membawa anak-anaknya ke rumah sakit, dia tak punya uang. “Ya begini-begini sajalah. Bapaknya pun hanya kerja di doorsmeer, gajinya Rp30 ribu sehari,” tuturnya.
Di hati kecilnya Suratmi berharap, seandainya suatu saat dia dan suaminya sudah tidak ada lagi, hendaknya ada orang yang merawat anak-anaknya itu. Untuk sementara dengan kondisi saat ini mereka hanya bisa berharap agar yang maha kuasa memberi umur panjang supaya bisa lebih lama merawat anak-anak itu.
“Mudah-mudahan ada orang yang baik hati nanti. Saya pun berterimakasih atas bantuan yang sudah diberikan. Selama ini kami belum pernah mendapatkan bantuan dari siapa pun,” lirih Suratmi.
Fisik Mujiman dan Suratmi sendiri sudah terlihat dengan kulit yang sudah keriput, rambut yang sudah memutih, dan sorot mata yang layu.
Seusai dari tempat itu rombongan panitia natal lalu beranjak ke kediaman Ratna Tampubolon, seorang nenek yang bertempat tinggal di Jalan Marihat Baris, Dusun Suka Selamat, Kelurahan BP Nauli, Siantar Marihat.
Ratna mempunyai seorang cucu berusia 9 tahun bernama Astika yang menderita pecah pembuluh darah sejak usia 11 bulan. Hal itu membuat mata sebelah kanan Astika bengkak menghitam, dan penglihatannya terganggu.
Ratna menceritakan, anaknya Hartini boru Napitupulu, yang melahirkan cucunya Astika dan Aditya, terpaksa menitipkan kedua cucunya itu kepadanya agar bisa mencari nafkah serta berupaya mengumpul uang untuk kelak biaya Astika berobat.
Astika sendiri sehari-hari sering mengeluh kesakitan. Terkadang pandangannya kabur. Parahnya, penyakit Astika sudah menyebar hampir di seluruh bagian tubuhnya. Benjolan sebesar jempol tangannya tidak lagi hanya pada mata tapi sudah ada di tangan, kaki, dan punggungnya.
Kadang benjolan dibagian mata itu bengkak, memerah sampai mengeluarkan darah. Beban mental dan psikologis ditanggung Astika akibat penyakit yang dideritanya.

Disebutkan, dalam istilah kedokteran penyakit yang dialami Astika adalah AVM Regio Orbita DX Pro Eksisi Massa. Ratna sangat mengimpikan adanya bantuan dermawan atau pemerintah agar sesegera bisa cucunya menjalani operasi plastik yang disebut bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

Bantuan berupa sembako dan uang seadanya dari rombongan panitia itu diserahkan sebagai bentuk empati dan kasih natal kepada pihak yang sedang membutuhkan. Perayaan Natal Wartawan Siantar sendiri akan digelar pada 21 Desember 2018. [nda]




















