Siantar — Di tengah duka oleh bencana yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, harapan hadir dari wajah-wajah sederhana. Tangan mungil anak-anak SD Negeri 124392 Pematangsiantar, datang ke posko Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa mie instan dan dana, pada Senin (8/11/2025). Mereka bersolidaritas dari uang jajannya untuk membantu sesama.
Selain anak-anak SD, para abang ojek online (ojol) juga datang memberi donasi sembako, roti, mie instan, dan air mineral.
Kedatangan anak-anak SD dan abang-abang ojol ini, melengkapi bantuan yang selama ini telah diterima Posko MUI dari jemaah masjid, atau warga maupun organisasi.
Diketahui, sejak Jumat 28 November hingga Senin 8 Desember, masyarakat Kota Pematangsiantar yang tergabung dalam organisasi Islam seperti BKPRMI, PMII, Ansor, WI, MDDII, Perguruan tinggi Islam SAMORA, DMI, dan PCNU, di bawah naungan MUI Kota Pematangsiantar telah enam kali mengirimkan bantuan kemanusiaan ke daerah terdampak, seperti ke Langkat, Sibolga, Tapanuli Tengah, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang.
Bantuan yang dikirim meliputi makanan, obat-obatan, pakaian, selimut, dan berbagai kebutuhan pokok. Namun hari ini, yang paling menyentuh hati bukanlah jumlah bantuan, melainkan siapa yang menyerahkannya. Anak-anak sekolah dasar dengan seragam sederhana, membawa kantong plastik berisi makanan ringan hasil tabungan uang jajan. Abang-abang ojek online, dengan motor yang sehari-hari menjadi sumber nafkah, rela menyisihkan penghasilan mereka untuk membeli selimut dan obat-obatan.
Solidaritas ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan tidak mengenal usia atau profesi. Anak kecil yang baru belajar membaca dan abang ojol yang bergelut dengan panas dan hujan, sama-sama menjadi teladan kepedulian. Mereka mengajarkan bahwa tangan mungil bisa membawa harapan, dan roda motor bisa mengantarkan doa.
Di balik kepolosan anak-anak dan ketulusan para pekerja jalanan, bencana ini juga menjadi teguran keras bagi tangan-tangan kotor yang merusak hutan. Pohon yang ditebang tanpa nurani, tanah yang digunduli demi keuntungan sesaat, telah menjelma menjadi banjir dan longsor yang merenggut rumah serta harapan.
“Setiap bantuan yang kami kirim bukan hanya untuk meringankan beban, tapi juga doa agar manusia kembali sadar bahwa hutan adalah kehidupan,” ujar Rony koordinator relawan dengan mata berkaca-kaca.
Gerakan kemanusiaan ini adalah cermin: anak SD dan abang ojol menunjukkan wajah solidaritas yang tulus, sementara perusak hutan diingatkan bahwa kerakusan mereka adalah pengkhianatan terhadap masa depan.
“Kami terharu peristiwa hari ini, anak SD dan Abang Ojol Adalah cermin solidaritas yang melengkapi pengiriman bantuan kemanusiaan, tapi bagi kami ini tidak berhenti hanya dalam wajah solidaritas. Jauh dari itu ini adalah teguran dan pukulan kepada penguasa yang rakus mencuri sumber daya alam. Yang karena itu banyak teman mereka anak anak SD yang tidak bisa belajar dan abang ojol yang tak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Ini pukulan untuk pejabat negara”, papar Efendi Siregar, ketua MPD BKPRMI.
Ini bukan sekadar laporan kegiatan, tetapi seruan moral Belajarlah dari anak-anak kecil yang memberi dengan hati. Belajarlah dari abang ojol yang berbagi meski hidupnya sederhana. Hentikan tangan-tangan kotor yang menebang doa bernama hutan. Karena kemanusiaan sejati bukan hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga menjaga bumi agar tetap menjadi rumah yang aman bagi generasi mendatang. (im)





















