Home Fokus Wawancara pasca kisruh DPRD (Bag 1). Eliakim: Coba kalian pikir, saya yang...

Wawancara pasca kisruh DPRD (Bag 1). Eliakim: Coba kalian pikir, saya yang arogan atau mereka?

SHARE
Eliakim Simanjuntak

isiantar.com – Kekisruhan antar pimpinan DPRD yang terjadi dalam Sidang Paripurna dengan agenda Penyusunan dan Penetapan Komposisi Alat Kelengkapan Dewan (AKD) Kota Pematangsiantar, Rabu sore (3/4/2017) lalu, menjadi tontonan khalayak lewat berita dan tayangan di sejumlah media. Terlihat jelas bagaimana para elit politik di kota ini hampir adu jotos setelah saling dorong, saling tantang, sembari melontarkan kata makian.

Disebutkan, kekisruhan bermula dari sikap Ketua DPRD Eliakim Simanjuntak, yang dinilai arogan, karena mengetuk palu untuk menskors sidang tersebut dengan tanpa terlebih dahulu bertanya kepada floor atau kepada kedua wakilnya yang ikut memimpin sidang paripurna itu.

Tuduhan arogan ini menjadi salah satu pertanyaan awal yang dilontarkan isiantar.com saat melakukan wawancara dengan Eliakim Simanjuntak, Jumat sore (5/4/2017), di ruangan Fraksi Demokrat DPRD Kota Pematangsiantar.

Eliakim menjawab dengan bantahan. Menurut Eliakim, saat itu ia melihat suasana sidang paripurna itu sudah tak lagi mungkin kondusif. Dua kubu di Fraksi Indonesia Raya ngotot dengan pendiriannya masing-masing. Hendry Dunan Sinaga ingin rapat dilanjutkan sementara Oberlin Malau mengancam akan menuntut pimpinan sidang jika rapat berlanjut. Persoalan ini bermula dari munculnya dua versi surat perihal perombakan komposisi fraksi kepada Pimpinan DPRD, dari fraksi tersebut.

Eliakim yang mengaku memiliki kewenangan yang diberikan undang-undang, akhirnya memutuskan mengetuk palu untuk menskors sidang, tanpa merasa perlu untuk bertanya kepada siapapun.

“Begini, tengok ya, ada waktu kapan saya meminta (bertanya kepada) floor, ada waktu mana tidak meminta ke floor. Sewaktu kondusifnya saya baru mau  meminta ke floor. Tetapi kalau saya lihatnya tidak kondusif, akan ada keributan,  maka di disitu kewenangan saya saya skors. Itu hak saya, di undang-undang ada itu.

Letak tidak kondusifnya? Karena tiga hari tiga malam pun itu kita teruskan rapat itu tidak akan ada keputusan. Maka saya sendiri yang mengambil satu keputusan, supaya rapat ini jangan terjadi apa, saya skors. Karena kalau saya tanyakan lagi, saya skors? Apakah di stop? Mereka tidak (akan) mau, tetap jalan trus. Mereka pasti tidak mau. (Dua) Pimpinannya (lainnya) juga. untuk apa saya lanjutkan kalau ribut terus.” Demikian jawaban Eliakim.

Ditanya bagaimana perasaan Eliakim ketika sempat terpojok di salah satu sudut Gedung Harungguan saat diajak berantam oleh dua pimpinan DPRD lainnya sehabis keputusannya menskors sidang yang bagi sebagian pihak dianggap kontroversial bahkan arogan itu, Eliakim menjawab ringan. “Ah, biasanya itu, namanya juga lembaga politik,” jawabnya.

Eliakim juga menolak jika kekisruhan ini semata-mata karena perdebatan yang bermula dari Faksi Indonesia Raya. Tetapi juga dari fraksinya sendiri. Dimana Fraksi Demokrat memasukkan dua nama anggotanya ke dalam Komisi III, padahal sebelumnya cuma satu orang. Dan hal ini turut jadi bagian perdebatan di dalam sidang sebelum kekisruhan itu meledak. (bersambung…)

[nda]