Home Peristiwa Tanpa Miras dan Pelacuran, PAS Timuran Daerah Wisata Nomor 1 di Simalungun

Tanpa Miras dan Pelacuran, PAS Timuran Daerah Wisata Nomor 1 di Simalungun

SHARE
Pemandian alam di PAS Timuran yang segar dan jernih.

isiantar.com – Pemandian Alam Sejuk (PAS) hanya sebuah lingkungan kecil di sepanjang 300 meter aliran air yang bersumber dari umbul. Namun warga sekitar yang berguyub, berhasil membuat lingkungan ini sebagai destinasi wisata yang jumlah pengunjungnya mengalahkan destinasi lain sekelas Kota Parapat.

PAS masih tercatat sebagai sebuah daerah wisata baru. Pada tahun 2005 lalu, warga sekitar umbul yang umumnya petani, berkumpul berembuk dan bersepakat menjadikan lingkungan mereka sebagai daerah wisata.

Satu-satunya yang mereka andalkan atas ide itu adalah jernih dan sejuknya air dari umbul air mereka.

Siapapun yang mahfum industri wisata, pasti paham bila ide warga ini terbilang berat. Selain lokasinya yang agak jauh dari jalan besar, kondisi jalan menuju umbul mereka yang dikelilingi perkebunan sawit milik PTPN IV, juga hanya jalan tanah yang agak sulit dilalui.

Namun ternyata dari data yang dirilis BPS, setidaknya dari tahun 2014 jumlah kunjungan ke lokasi wisata buatan warga ini telah mengalahkan destinasi sekelas Kota Parapat yang oleh pemkab setempat selalu didengungkan dan dipromosikan sebagai daerah wisata andalan.

Berhasil ditemui di salah satu warung di lokasi PAS, awal Desember 2017 lalu, Supriadi (50) yang merupakan wakil ketua paguyuban warga, mengatakan, dalam mengelola kawasan pemandian alam itu warga yang otodidak soal wisata hanya menekankan pada satu kesadaran semata, yakni, bahwa yang mereka tawarkan kepada pengunjung adalah air dari umbul yang sejuk dan jernih.

“Alasan utama (pengunjung) datang itu, air. Jadi air ini yang kita jaga biar semua pengunjung bisa menikmatinya dengan senang,” katanya.

Atas kesadaran itu, selain melarang berdirinya bangunan ataupun kegiatan yang bisa menggangu umbul dan sepanjang aliran air, paguyuban mempekerjakan beberapa orang yang rutin menjaga kebersihan lingkungan air di lokasi itu. Para pekerja dimaksud berasal dari anggota paguyuban sendiri.

Pada pagi hari sebelum bertemu Supriadi itu, tampak dua orang pria dewasa sedang bekerja dengan beberapa jenis sapu di tengah aliran air. Saat ditanya, kedua orang itu menjawab mereka sedang membersihkan lumut pada batu-batu agar pengunjung tidak terjatuh pun terluka saat bergembira di lokasi tersebut.

Salah satu kolam pemandian alam di PAS Timuran.

 

Larang Minuman Keras dan Ativitas Prostitusi

Anggota paguyuban warga PAS Timuran seluruhnya berjumlah 117 orang. Sebagian besar diantaranya memiliki usaha warung, sebagian menyewakan ban pelampung, dan sebagian menyewakan tikar di lokasi tersebut.

Namun tidak semua anggota pintar berusaha dalam bidang-bidang itu. Bagi angggota yang tidak masuk dalam kategori menjalankan usaha tersebut, oleh paguyuban diberi tugas lain semisal menjaga tempat penitipan kendaraan, menjadi petugas kebersihan, petugas kemanan atau menjadi pelayan di warung.

Bagaimana dengan sumber dan pengelolaan keuangan paguyuban?

Supriadi mengatakan, setiap pemilik usaha diwajibkan memberi iuran ke kas paguyuban . Besaran iuran disesuaikan jenis usaha masing-masing. Dan total uang iuran yang terkumpul akan dialirkan sebesar 35 persen untuk menggaji para pekerja, dan sebesar 25 persen untuk pemilik lahan penitipan kendaraan.

“Sisanya menjadi kas paguyuban. Sisanya itulah dibagi. Sebagian untuk uang bantuan jika ada anggota yang berpesta, untuk uang santunan jika ada yang kemalangan. Sekarang untuk anggota yang sakit, juga sudah mendapat santunan. Atau kita beri menjadi pinjaman modal jika ada anggota yang ingin berusaha,” jelas Supriadi.

Jika ternyata masih ada sisa kas, maka uang itu akan dibagi kepada keseluruhan anggota. Pengurus paguyuban sama sekali tidak mendapat gaji atas posisinya sebagai pengurus yang periodiknya berganti setiap dua tahun.

Sebagai daerah wisata, PAS Timuran yang terletak di di Nagori Mariah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja, juga menghadapi persoalan-persoalan yang sama dengan yang dihadapi daerah-daerah wisata lain. Contoh kecilnya, menghadapi terjadi perkelahian.

Suasana Pagi di Salah Satu Aliran Air PAS Timuran.

Namun perkelahian di tempat mereka, kata Supriadi, sangat jarang terjadi. Bila pun terjadi itu adalah perkelahian antar pengunjung yang biasanya oleh anak-anak remaja. Petugas keamanan pun bekerja mendamaikannya, dan harus membuat tempat itu segera nyaman kembali bagi pengunjung lain.

Poin penting dalam menjamin kenyamanan pengunjung, para pemilik warung secara tegas dilarang menjual minuman keras. Dan melarang kegiatan prostitusi, baik yang oleh pengunjung.

“Pengunjung di sini kan banyakan bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak. Keluarga. Tidak boleh minuman keras, tidak boleh ada prostitusi. Kalau ada yang kedapatan jualan minuman keras, kita cabut ijin usahanya. Tamu datang itu kan karena air, itulah yang kita fokuskan,” ungkap Suriadi.

Di hari-hari biasa, masuk ke lokasi ini tidak dikutip biaya apapun. Hanya membayar biaya penitipan kendaraan. Untuk roda dua sebesar Rp 5 ribu, dan untuk roda empat sebesar Rp10 ribu.

 

Impikan Perbaikan Jalan oleh Pemkab atau Perkebunan

Sebagaimana setiap daerah wisata yang memiliki masa-masa sepi, demikian juga PAS Timuran. Namun satu-satunya kendala yang terlalu besar untuk mereka hadapi sebagai paguyuban ialah belum baiknya kondisi jalan ke lokasi tersebut.

Bila masuk dari simpang jalan Asahan Kilometer 8, jarak tempuh ke lokasi pemandian PAS Timuran sekitar 4 kilometer jalan tanah yang dikelilingi kebun sawit. Sekitar tahun 2015 lalu, secara swadaya paguyuban mengeluarkan uang sebesar Rp40 juta untuk perbaikan jalan. Namun uang yang mereka kumpul selama beberapa tahun ditambah bantuan donatur itu, ternyata hanya mampu untuk sedikit ruas jalan saja.

Kondisi Jalan dekat gerbang masuk PAS Timuran.

Memang ada jalan dari semen yang dibangun dengan Dana Desa. Namun jalan sekitar beberapa ratus meter itu, sudah langsung rusak.

Kondisi jalan yang dibangun dengan Dana Desa. Jalan ini dilalui bila masuk dari simpang Jalan Asahan KM 13.

Oleh karena itu, mereka, kata Supriadi, sangat berharap adanya segera pembangunan jalan oleh pemerintah atau pun perkebunan. Sebab bukan hanya bagi anggota paguyuban saja tetapi juga bagi keseluruhan warga Nagori Mariah Jambi, yang didominasi petani yang tentu membutuhkan akses jalan yang baik.

“Dari dulu kami sangat memimpikan pembangunan jalan. Ya kalau jalannya sudah baguskan semua masyarakat di sini kehidupannya bisa lebih baik. Kami juga bisa jadi lebih lancar membayar pajak dan kewajiban lainnya. Sederhananya kan itu, masyarakat sejahtera, negara sejahtera,” tutur Supriadi, yang lalu memohon diri pamit dari wawancara sebab ada tugas lain yang harus ia kerjakan. [nda]