Home Khas Selena Gomez dan Madonna Depresi karena Instagram?

Selena Gomez dan Madonna Depresi karena Instagram?

SHARE
(Sumber: Twitter)

isiantar.com — Baru-baru ini beberapa mega-seleb menyampaikan opini mereka tentang dampak buruk menggunakan Instagram.

“Queen of Pop” Madonna, menilai platform medsos tersebut membuat sebagian besar penggunanya merasa buruk atas diri mereka sendiri. Lalu dengan segala cara (yang tidak sehat bagi mental) berupaya agar diterima orang-orang yang ada di medsos tersebut untuk mendapat banyak “like”.

I think Instagram is made to make you feel bad,” kata Madonna sebagaimana dikutip dari theguardian.com.

Penyanyi pop berusia 60 tahun yang akun Instagramnya sempat memiliki 14juta followers ini juga telah menyarankan putrinya yang berusia 22 tahun, Lourdes, agar berhenti menyerahkan kehidupannya pada pandangan orang-orang di Instagram.

Pesohor lain, Selena Gomez, bahkan mengaku telah berhenti menggunakan platform medsos tersebut meski ia sudah memiliki 152juta followers. Dia menghapus Instagram dari ponselnya sebab membuatnya depresi dimana telah secara brutal menyerang kepercayaan dirinya.

Menyadari itu, Selena lalu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap anak-anak muda lain atas pengaruh negatif yang dia rasakan tersebut.

It’s selfish – i don’t wanna say selfish, that’s rude – but it’s dangerous for sure,” ungkapnya seperti dikutip dari BBC.

Ralph Smart: Berhentilah Meletakkan Nilaimu dari Jumlah Like yang Kamu Terima

Terkait penyataan kedua pesohor tersebut penulis muda yang juga motivator kehidupan, Ralph Smart, mengingatkan kembali bahwa medsos bukanlah kehidupan nyata maka jangan pernah mau menjadi budak-jumlah-like ataupun komentar yang diterima.

Ralph mengatakan sebagai yang juga pengguna Instagram, ia mampu menyadari bagaimana dampak buruk platform tersebut  bisamembuat penggunanya menjadi budak mental atas penilaian yang diberikan orang-orang.

Secara luas dijelaskannya, kondisi itu disebabkan peradaban kini dimana manusia melekat  dengan ponsel. Lalu kemudian mereka memposting foto-foto yang ingin dilihat dan dipuji orang lain. Padahal peradaban kini juga sekaligus membuat semua itu bisa hanyalah berupa kepalsuan.

Berebut perhatian di arena dimana semuanya bisa berupa kepalsuan belaka, kata Ralph, tanpa sadar rentan membuat hidup kita hanyalah sekadar menjadi budak dari pendapat/kepalsuan orang lain. Semakin parah karena jumlahnya bisa mencapai jutaan, yang bisa diterjemahkan diperbudak oleh jutaan pendapat/kepalsuan orang-orang.

“Itulah awal mula bencana mengapa pengguna Instagram banyak yang merasa depresi, sebab orang-orang yang ada di Instagram tersebut seolah-olah memiliki kehidupan yang sempurna,” kata Ralph.

Beberapa tahun sebelum munculnya pendapat para pesohor yang mengaku depresi ini, Ralph memang sudah pernah mengingatkan adanya potensi bahaya mental ini. Ralph sendiri mengaku tak pernah mengecek jumlah like yang dia terima sebab melakukan itu menurutnya seperti kembali ke level taman kanak-kanak.

“Sadarilah kehidupan dalam Instagram bukanlah kenyataan, semua keterangan profil bisa dimanipulasi, foto-foto didalamnya juga bisa dengan mudah diedit dahulu sebelum diposting. Jangan serahkan dirimu, berhentilah meletakkan nilai kehidupanmu pada jumlah like yang kamu terima, karena kamu jauh lebih tinggi dari itu,” kata Ralph. [**]


Baca juga: 

Empat Manfaat Pura-pura Tersenyum

6 Daya Tarik pada Tubuh Wanita

Saat-saat Kita Berbohong pada Diri Sendiri