Home Fokus Sekedar Mengingatkan, Wisata Danau Toba Sudah Pernah Jaya

Sekedar Mengingatkan, Wisata Danau Toba Sudah Pernah Jaya

SHARE
Foto suatu senja di Samosir, Juni 2019. (isiantar/nda).

Oleh: Gabjriel Obeiyel

Mengikuti kabar tentang upaya pembangunan sektor wisata kawasan Danau Toba, kian ke sini kian terasa memberi kebingungan. Baru beberapa tahun saja sudah muncul beberapa jargon atau tagline yang berbeda — yang tentu dipahami sebagai skema-abstrak atau landasan pembangunan dan promosi kawasan ini; mulai dari Monaco of Asia, ke Negeri Indah Kepingan Surga, dan kini muncul Bali Baru.
Semenjak munculnya tagline Monaco of Asia beberapa tahun lalu, hingga kini belum terjawab mengapa tagline itu yang dipilih. Ada apa sebenarnya dengan Monaco? Seperti apa itu Monaco? Dan mengapa ditambah kata of Asia di depannya? Dan apa penyebab tagline itu yang dihadirkan menjadi bahan pencitraan sekaligus dudukan konsep pembangunan kawasan ini serta sudah sejauh apa hasilnya?
Begitu juga saat tagline Negeri Indah Kepingan Surga yang tersiar tak berapa lama kemudian. Rentetan pertanyaan sama untuk tagline yang diletakkan untuk destinasi-alami yang oleh penduduk lokal dinamai Tao Toba ini. Yaitu di mana, siapa saja, sejauh apa, dan aspek-aspek apa yang telah didiskusikan hingga tagline ini yang disepakati.
Belum pula jawaban untuk semua itu tertemukan, pagi tadi di media terlihat sudah muncul lagi frasa Bali [yang] Baru dalam narasi yang juga dikemas sebagai konsep pembangunan sekaligus mencitrakan Tao Toba. Nah…
Bagaimana kesemua tagline itu bisa bermunculan? Adakah disebalik ramainya berita tentang besarnya kucuran uang untuk pengembangan wisata di kawasan ini juga banyak lembaga yang terlibat, yangmana mereka bebas menerjemahkan wisata, pariwisata, kepariwisataan, dan juga Tao Toba sesuai dengan pemahaman dan konsep mereka sendiri-sendiri? Jika iya, siapa saja dan sudah bagaimana hasil kerja serta evaluasi oleh-dan-terhadap mereka?
Benar, tentu saja kita sadar, bahwa berharap jawaban dan penjelasan (yang benar-benar jelas) untuk pertanyaan itu tidak mudah dan akan butuh waktu. Ini kawasan besar, uang besar, masyarakat besar, maka banyak yang harus dicecar dalam mengawal keseluruhan Tao Toba — yang entah mengapa pula frasa “untuk mengembangkan wisata Danau Toba” masih terus muncul padahal wisata di kawasan ini sudah pernah jaya dalam skala internasional, dalam skala terluas!
Untuk sekedar mengingatkan, sektor wisata di Tao Toba sudah pernah sangat jaya di era 80-90an lalu. Bukan hanya travel-agent, tapi saat itu bahkan banyak penduduk setempat yang sudah menjadi “money-changer berjalan”. Kapanpun dimanapun mereka memegang dollar atau mata uang lainnya siap sedia kalau saja ada turis yang tiba-tiba datang mau menukar uang.
Banyak sekali turis mancanegara yang berkunjung ketika itu. Beberapa kali kalau pas liburan ke sana, jumlah turis bahkan terlihat lebih banyak dari penduduk lokal.
Juga harus diingat, di saat masa kejayaannya itu, di kawasan ini tidak ada yang namanya jalan tol, hotel-hotel mewah-atau-penginapan-yang-pantainya-paling-luas, objek wisata keramba, jalan aspal lebar, cuaca terik ala-ala metropolitan, bandara-bandara. Itu semua tidak ada.
Dan memang benar, bahwa gambaran sekilas tentang bagaimana kondisi saat kejayaannya itu bisa terdengar asing dan membingungkan bagi sebagian orang, termasuk orang-orang yang terlibat di proyek kepariwisataan di Tao Toba saat ini. Dan sekaligus wajar kalau diantaranya ada yang masih butuh waktu lama untuk bisa paham mengapa dulu bisa ramai sekali turis yang datang ke Tao Toba padahal konsep yang ada di kepalanya saat ini tidak ada ketika itu. Ada apa dengan pariwisata di sini. Dan lalu bertanya pada dirinya sendiri: “O, Danau Toba, entah apa yang mau dilihat turis dulu itu sampai bisa seramai itu ya? Dan hal baru apalagi lah yang harus kubangun biar bisa berkembang wisata di sini, ya?”
PS: Jauhkan kalkulator Anda….(*)
Penulis adalah warga Siantar yang pernah berkunjung menikmati Tao Toba.

Baca juga:
Kuburan di Atas Pohon, Sebuah Objek Wisata di Samosir
Rondang, Popcorn-nya Orang Batak