Home Fokus Populasi Penduduk Siantar Minus: antara Keberhasilan KB dan Ancaman Ekonomi

Populasi Penduduk Siantar Minus: antara Keberhasilan KB dan Ancaman Ekonomi

SHARE
Ilustrasi.
isiantar.com – Data dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Pematangsiantar menunjukkan bahwa, di tahun 2017 populasi atau laju pertumbuhan penduduk di kota ini adalah minus. Populasi minus merupakan istilah untuk menunjuk sebuah kondisi dimana jumlah penduduk yang pergi keluar atau meninggalkan sebuah kota, lebih tinggi dibandingkan dengan angka kelahiran di kota itu.
Kondisi populasi minus itu disampaikan Kepala Dinas P2KB, Naik Lubis, kepada Komisi I DPRD saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kamis siang (9/11/2017) di ruang komisi. Hal itu disampaikannya dalam konteks pemaparan keberhasilan dinas tersebut dalam menjalankan program Keluarga Berencana (KB) di kota ini.
“Banyak yang meranto (merantau) dari Siantar ke luar kota, anak sekolah, yang mau bekerja. Sedangkan yang melaksanakan KB di sini sudah sangat tinggi, sampai bulan September saja sudah mencapai 80 persen. Jadinya yang lahir tidak setimpal dengan yang datang juga dengan yang keluar.” Demikian penjelasan Naik Lubis saat kembali diwawancarai wartawan seusai rapat tersebut. Sementara mengenai alasan mengapa banyak penduduk yang keluar dari kota ini, Naik Lubis menolak menjawab lebih detil. Ia beralasan itu bukan domainnya.
(Sumber: buku Statistik Daerah Kota Pematangsiantar 2016)
Terlepas dari klaim sukses program KB itu, pada sisi lain, jika merujuk pada data dan kesimpulan Badan Pusat Statistik (BPS) yang tertulis dalam buku Statistik Daerah Kota Pematangsiantar 2016, secara umum penduduk kelompok usia produktif yakni usia 15 – 60 tahun merupakan motor penggerak perekonomian terbesar di suatu wilayah. Dalam arti bisa diterjemahkan, bahwa populasi yang minus di Siantar akan cukup berdampak pada perekonomian di kota ini.
Diwawancarai terpisah, Direktur Pasca Sarjana Universitas Simalungun (USI), Robert Tua Siregar, dalam amatannya membenarkan sudut pandang tentang faktor keberhasilan program KB atas kondisi populasi disampaikan Naik Lubis itu.
“Jika kita lihat satu sisi penyebabnya adalah pasangan usia muda yang sudah berumahtangga salah satunya sudah lebih banyak melakukan dan memikirkan kebutuhan pekerjaannya dan hidup. Tentu hal ini kita bisa merujuk permasalahan ekonomi dan profesionalisme,” ujar Robert, Selasa malam (21/7/2017).
Namun, Robert melanjutkan, bila kondisi itu diletakkan pada diskusi atau pembahasan mengenai apa dampak kemudian dari populasi minus itu bagi kota ini ke depan, maka pemko perlu dituntut untuk memikirkan aspek perhitungan pendapatan perkapita. Sebab menurutnya, dampak kondisi ini terhadap perkembangan wilayah akan potensial mengakibatkan kota ini kekurangan tenaga produktif.
“Jika kita melihat implikasinya secara berkesinambungan terhadap perkembangan wilayah, ini bisa mengakibatkan tenaga kerja khususnya profesional datang dari luar, dan perhitungan perkapita untuk kota ini bukan lagi masuk di wilayah ini karena sudah dibawa oleh tenaga kerja dari luar. Hal ini bisa kita lihat saat ini tenaga kerja perbankan lebih didominasi oleh warga yang bukan orang Siantar. Belum lagi tenaga kerja lainnya. Hal ini juga dibuktikan bahwa perkembangan rumah kost yang umumnya diisi oleh tenaga kerja luar,” pungkasnya. [nda]