Home Fokus Menyeruak Seksinya Seluk Beluk Kopi bersama Firma Hukum Parade 7 & Co

Menyeruak Seksinya Seluk Beluk Kopi bersama Firma Hukum Parade 7 & Co

SHARE
Salah seorang peserta pelatihan sedang mempraktekkan cara meracik kopi.

isiantar.com – Kopi sesungguhnya memiliki beberapa kandungan rasa. Bila kebanyakan kita masih mengidentikkan kopi dengan rasa pahit, maka itu adalah pemahaman yang salah. Sebab rasa pahit pada kopi hanya disebabkan oleh proses roasting (penyangraian) yang dilakukan, yang hingga menjadikan biji kopi menjadi gosong.

Penyangraian hingga gosong memang merupakan salah satu pilihan dari metode penyangraian kopi. Metode seperti itu disebut dark-roast. Jika kopi disangrai dengan cara itu maka kopi tak lagi memiliki flavor bawaan tetapi hanya rasa gosong yang mencolok dengan kandungan karbondioksida yang tinggi. Maka itu kopi tersebut menjadi berasa pahit. Memang ada juga menyebut bahwa kelebihan metode ini adalah, jika kopi sudah diseduh dengan air panas maka ia akan memunculkan aroma yang wangi.

Selain metode seperti itu, ada juga metode yang disebut Light Roast dan Medium Roast. Pengenalan akan berbagai metode penyangraian kopi ini menjadi salah satu bagian dari pelatihan yang digelar Firma Hukum Parade 7 & Co, di akhir November 2017 lalu. Mereka mengundang 4 orang pemateri dari Medan untuk memberi pelatihan panduan dasar bagi seorang Barista, atau peracik kopi, kepada sebanyak 10 orang peserta pelatihan.

Suasana pelatihan di Aula Firma Hukum Parade 7 & Co

Peserta pelatihan yang berjumlah 10 orang dengan latar belakang advocat dan wirausahawan itu diberi pemahaman dan praktek tehnik dasar meracik kopi. Semisal bahwa flavor atau citarasa bawaan kopi sesungguhnya ada tiga, yakni asam, manis dan pahit. Dan semua pola atau cara yang diterapkan sejak dari tahap penanaman, pemanenan, dan ragam proses peracikan, akan turut mempengengaruhi akan bagaimana rasa dari kopi tersebut. Yang jika kesemuanya aspek yang mempengaruhi ini di-handle dengan apik, maka bisa menciptakan banyak pilihan variasi rasa kopi yang nikmat. Ini juga hanya bila seandainya akan dianggap berlebihan bila menyebut rasa yang dramatik.

Maka tidak heran jika ada kopi yang harga percangkirnya mencapai ratusan ribu rupiah. Bahkan di luar negeri sana, ada kopi yang mencapai jutaan rupiah untuk satu cangkir.

Contoh hasil seduhan dalam racikan kopi tubruk.

Pelatihan yang dimulai jam 10 Siang itu diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta di Aula Firma Hukum Parade 7 & Co yang beralamat di Jalan MH Sitorus No A5. Hingga pelatihan pun usai pada jam 6 sore.

Hidup Ini Asik Ketika Bisa Menikmati Kopi Terbaik 

Firma Hukum Parade 7 & Co yang berkerjasama dengan beberapa pemerhati dan penikmat kopi menyelenggarakan pelatihan itu, mengatakan, pelatihan tersebut diharap akan menjadi entry point atau pintu masuk memperkenalkan seluk beluk kopi dengan lebih baik kepada masyarakat. Serta menyadarkan masyarakat khususnya warga Siantar-Simalungun betapa sesungguhnya daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, yang bernama tanaman kopi.

Sebab diketahui, meskipun Indonesia menjadi salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia, namun hingga saaat ini masyarakat terkesan masih gagal mengenali dan memahami seluk beluk kopi dengan baik.

“Kita punya potensi besar tetapi bahkan tidak pernah menikmati kopi terbaik. Mengapa petani tidak pernah menikmati kopi yang terbaik itu, tapi justru diekspor dengan harga murah ke luar negeri?” Ungkap Ferry Simarmata dari Firma Hukum Parade 7 & Co.

Alat mengukur standar suhu air yang baik.

Selain petani kopi kurang beruntung sebab tidak pernah dikenalkan bagaimana meracik kopi dengan cara modern. Lebih dari itu, salah satu upaya yang harus segera dilakukan terhadap petani kopi khususnya di Sumatera Utara menurutnya adalah menghapus adanya pemahaman di benak petani bahwa kopi jenis Arabika kurang baik untuk dikonsumsi.

Entah bagaimana pemahaman ini muncul pada sebagian besar petani kopi. Bahwa kopi hasil pertanian mereka dibeli dan diekspor ke luar negeri bukan untuk dikonsumsi tapi untuk dijadikan bahan dasar produk kosmetik.

Akibatnya, harga jual biji kopi menjadi murah dan petani kurang bergairah. Padahal kita ketahui di luar negeri sana kopi Arabika dari Indonesia adalah salah satu jenis kopi terbaik yang setelah diracik harganya menjadi sangat mahal.

Hal tersebut dibenarkan Jakpar Ahmad yang turut menjadi bagian penyelenggara pelatihan itu. “Yang lebih mendasar sebenarnya harus dirubah cara pandang kita keseluruhan terhadap dunia kopi. Sekarang, sadar tidak sadar, kita mendiskiminasikan jenis kopi Arabika. Padahal di negara lain, konsumsi Arabika yang lebih tinggi dari Robusta,” ujarnya.

Peserta sedang mempraktekkan cara menyeduh kopi.

Untuk itu, selanjutnya Firma Hukum Parade 7 & Co berencana menggelar sebuah diskusi akhir tahun yang membawa tema ‘Hidup Ini Asik Ketika Bisa Menikmati Kopi Terbaik’. Diskusi tersebut direncanakan akan mengundang para pecinta dan pemerhati kopi di daerah ini yang selanjutnya dirangkul untuk membentuk sebuah komunitas yang fokus untuk peningkatan nilai-nilai di sektor pertanian kopi.

“Ketika nanti komunitas terbentuk, maka ia tidak hanya akan pada peracikan semata. Tetapi juga kepada tanggung jawab yang lebih besar, seperti melakukan pendampingan kepada masyarakat petani.

Jadi sekaligus untuk memutus mata rantai agensi-agensi. Misalnya kita jadikan barista langsung mendampingi petani mulai dari pembudidayaan, pemanenan, penggilingan atau pemasaran. Maka terhargailah petani kopi. Mereka bisa menentukan harga kopi mereka,” ujar Prima Banjarnahor, Direktur Utama Firma Parade 7 & Co, mengakhiri diskusi kecil yang digelar seusai pelatihan itu.

Nah, bagaimana menurut Anda?

[nda]