Home Fokus Kepsek SMPN 1 dan SMAN 4 Kritik Keras Rencana Pembangunan Mall di...

Kepsek SMPN 1 dan SMAN 4 Kritik Keras Rencana Pembangunan Mall di GOR

SHARE
Kepala SMP Negeri 1, Edianto Saragih, saat berbicara di acara Konsultasi Publik AMDAL Optimalisasi Lahan dan Gedung GOR Pematangsiantar, di Hotel Horison Jalan Medan, Senin (25/7/2019). (isiantar/nda).

Siantar — Kepala SMP Negeri 1 Pematangsiantar, Edianto Saragih, mengaku sedih dan miris usai mendengar pemaparan konsultan PT Suriatama Mahkota Kencana di acara Konsultasi Publik AMDAL Optimalisasi Lahan dan Gedung GOR Pematangsiantar, yang digelar di Hotel Horison Jalan Medan, Senin sore (25/7/2019).

Kesedihan itu beberapa kali diungkapkannya karena pada pemaparan konsultan yang menggunakan slide proyektor itu, meski gedung SMPN 1 ada beberapa kali terlihat pada layar, tak sedikitpun pemaparan tersebut menyinggung apa dampak yang akan menerpa orang-orang serta proses belajar-mengajar yang ada di sekolah itu.

Saat mengutarakan kekecewaan dan kesedihannya di acara itu, Edianto lewat kalimat-kalimat yang dilontarkannya masih terdengar berupaya menyadarkan betapa serius dampak sosial serta kemungkinan perubahan mindset yang akan terjadi pada anak-anak di sekolah yang dipimpinnya itu, jika mall tersebut jadi dibangun.

“Cobalah diperhitungkan bagaimana dampak yang terjadi sama kami. Yang jelas ada dampak sosial. Kalau polusi, ada polusi suara. Yang jelas kalau ada mall, apa-apa kegiatan (suaranya akan) sampai ke sekolah kami. Sedangkan dari Ramayana (berjarak sekitar 100 meter) kadang-kadang terdengar ke SMP 1, apalagi ini, langsung dia satu dinding,” kata Edianto kepada si konsultan.

Edianto mengakui perasaannya makin miris apalagi setelah mendengar penanggap pertama yakni salah seorang dari unsur masyarakat yang ikut diundang di acara itu, yang justru menggebu-gebu meminta supaya nanti di mall tersebut juga dibuat bioskop.

“Lebih seribu orang murid SMP 1, Pak. Sama gurunya lebih seribu seratus orang, Pak. Itukan harus kita perhitungkan, Pak, itu aset bangsa. Memang pembangunan itu perlu tapi jangan pula kita kesampingkan orang-orang yang mengisi pembangunan itu, sumberdaya manusianya,” cecar Edianto kepada konsultan yang langsung disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir di acara itu.

Perihal dampak sosial dan dampak psikologis itu menjadi bagian utama yang disampaikan Edianto. Selain dampak langsung lainnya yang dipastikan akan menghinggapi mereka selama proses pembangunan — kalau jadi dilaksanakan— yang diperkirakan akan memakan waktu selama dua tahun. Yakni, kebisingan dan paparan material bangunan yang akan bersinggungan langsung dengan aktifitas dan manusia yang ada di sekolah tersebut.

Wakepsek SMAN 4: Dengan Ramayana Saja Kami Sudah Terganggu, Apalagi Kalau Ada Mall

Kekecewaan dengan alasan yang sama seperti diutarakan Edianto, juga disampaikan Wakil Kepala SMAN 4, Firdiansyah, yang juga memenuhi undangan konsultasi publik sore itu.

Firdiansyah yang datang mewakili Kepala SMAN 4 mengatakan, pengalaman mereka setelah pusat perbelanjaan Ramayana berdiri saja sudah cukup membuat aktifitas SMAN 4 terganggu.

Salah satu bentuk gangguan dimaksud dikatakannya adalah kesemrawutan lalu lintas. “Pernah salah satu siswa kami jadi korban karena kesemrawutan lalu lintas di depan Ramayana, jadi korban kecelakaan lalu lintas,” ungkapnya.

Sementara itu, gangguan yang paling sering mereka dapatkan kata Firdiansyah adalah suara sound-system dari Ramayana yang terdengar sangat jelas ke ruang-ruang kelas.

Wakil Kepala SMA Negeri 4 Siantar, Firdiansyah. (isiantar/nda).

“Ke SMP 1 saja suara sound Ramayana itu sampai, gimana dengan SMA 4? Kalau di situ ribut seperti itu suaranya, sebelah kiri Ramayana, sebelah kanan ada mall baru lagi nanti, mungkin anak-anak gak belajar, yang ada nanti ujung-ujungnya, maaf, dugem. Yang ada tangan di atas semua,” kata Firdiansyah.

Rumus Gelombang Bunyi, Arah Angin, dan BMKG

Menanggapi kritikan keras dari dua pemimpin sekolah itu, Lintong Pane selaku konsultan PT Suriatama Mahkota Kencana yang memberi pemaparan tentang analisa AMDAL sore itu sempat memberikan jawaban berupa beberapa cara yang mungkin bisa diterapkan guna mengatasi persoalan-persoalan yang diutarakan kedua orang itu.

Lintong juga sempat berbicara tentang rumus gelombang bunyi dalam hitungan desibel, mengenai analisa kecenderungan arah mata angin, tentang menyusun kajian dampak lalu lintas, dan juga kemungkinan untuk berkonsultasi dengan Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG).

Namun untuk sementara, kata Lintong, semua yang telah disampaikan kedua orang tersebut akan dimasukkan ke dalam dokumen untuk kemudian dibahas kembali pada pertemuan selanjutnya dimana kedua pendidik itu juga akan diundang lagi.

Pernyataan Lintong itupun langsung disambar Edianto yang sebelumnya memberi penekanan pada kekhawatiran akan dampak sosial dan dampak psikologis, “Karena katanya tadi nanti mau diundang kembali, kalau gitu biarlah kami kembali (pulang, red), karena memang jawabannya kurang pas di hati kami,” ketus Edianto. [nda]


Baca juga:

Warga Siantar Sudah Ingin Walikota Diganti?

Pemko Dinilai Berkontribusi atas “Pengrusakan” DAS Bah Kaitan