Home Seni & Wisata Karang Anyer Makin Sepi, di antara “Bilik Esek-esek” dan Prostitusi

Karang Anyer Makin Sepi, di antara “Bilik Esek-esek” dan Prostitusi

SHARE
Tempat pemandian Karang Anyer tampak sepi. (isiantar/nda).

isiantar.com – Objek wisata Karang Anyer menjadi semacam anomali di dunia wisata. Di tahun 90-an saat alat transportasi masih jarang dan kondisi jalan rusak berat, tempat ini selalu ramai meski di hari kerja. Tapi kini tempat ini sepi, sekalipun tanggal di kalender warnanya merah.

Karang Anyer adalah objek wisata pemandian alam di Nagori (Desa) Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Air jernih yang mengalir deras dari umbul yang membentuk sungai kecil, pernah jadi idola. Bahkan, dulu, bila tanggal merah, pemandangan manusia berjejal berdesak-desakan sejak dari gerbang masuk hingga ke kolam pemandian adalah hal biasa. Tapi sekarang, sejak sekitar tahun 2010, pemandangan seperti itu tak pernah terlihat lagi dan seolah takkan terlihat lagi. Semakin hari semakin sepi hingga nyaris tiada pengunjung.

Warga sekitar, termasuk yang selama ini mengais rejeki dengan cara berjualan, menyewakan tikar atau ban pelampung kepada pengunjung, mengaku tak tahu mengapa itu terjadi. Mereka mengaku tak punya clue atau atau semacam petunjuk untuk bisa memahami kenapa pengunjung tak ada lagi.

 

Bilik ‘Esek-esek’ Terus Bertambah

Bagi yang di tahun 90-an pernah mengunjungi Karang Anyer, sekarang ini pemandangan di kawasan pemandian tak jauh berbeda. Selain jika kini telah ada beberapa bangunan baru berupa bilik-bilik kecil ukuran 1,5 x 2 meter. Setiap bilik-bilik itu dalam kondisi terbuka. Namun bisa ditutup oleh penyewanya dengan melepas ikatan tirai yang terpasang pada tiap sisinya.

“Ya itu tempat orang pacaran lah, Bang. Harga sewanya ada yang 20 ribu ada yang 30 ribu. Ya kalau udah masuk ditutup aja (tirainya) kan gak ada yang bisa lihat,” ujar Andi (nama samaran) saat di temui di salah satu warung di tepi kolam pemandian, Minggu (15/7/2018).

Andi adalah penduduk Nagori Karang Anyer yang siang itu sedang bermain di warung milik Meli (nama samaran), yang diakui Andi masih berkerabat dengannya.

“Abang ke sini gak bawa cewek rupanya? Kalau abang mau, kakak ini kan bisa manggilkan (mencarikan perempuan untuk dikencani),” tantang Andi sambil lirikan aliasnya diarahkan ke Meli yang sedang sibuk membenahi dagangannya. Meli sendiri seperti tidak mendengar perkataan Andi itu.

 

Bisnis Pelacuran Juga Ikut Layu

Meli sebagai orang pertama yang diajak berbincang soal desas-desus bisnis pelacuran di tempat itu (sebelum Andi terbangun dari tidurnya di atas sebuah bangku kayu) sesekali masih ikut nimbrung menyahut pembicaraan, meski ia tampak kurang bersemangat.

Salah satu bangunan tempat bilik-bilik yang disewakan di Karang Anyer.

Menurut Meli, beberapa tahun lalu bisnis pelacuran memang pernah menggeliat di Karang Anyer. Dan ia juga sempat ikut ambil peran. Dulu, warungnya termasuk tempat mangkal bagi para “cewek muda” yang berdatangan untuk menjajakan diri ke pengunjung di lokasi itu.

“Kalau sekarang udah gak ada lagi, aku pun udah gak pernah manggil orang itu lagi, kasihan,” ungkap Meli.

Meli menceritakan detil bagaimana proses dan harga cewek yang menjajakan diri di kawasan itu dulu. Menurutnya cewek-cewek itu adalah orang-orang luar yang masih dekat dengan Nagori Karang Anyer. Bukan penduduk setempat.

“Sekarang mereka gak pernah ke sini, aku pun gak pernah manggil orang itu lagi. Soalnya kan gak ada tamu (pengunjung). Kan kasihan juga bang kalau orang itu kupanggil rupanya dari pagi sampai sore tamu yang nawarin orang itu makan pun nggak ada. Tapi kalau abang memang mau, ini nomor hape orang itu masih ada, biar kucoba panggil,” tantang Meli.

“Kalau enggak, di bawah situ, Bang, ada cafe itu. Ceweknya juga banyak situ, lihat abanglah,” Andi menyela sambil menunjuk ke arah hilir.

Andi dan Meli menceritakan dan menjelaskan tentang geliat pelacuran yang pernah marak di tempat itu dengan mimik dan intonasi yang datar. Tidak ada kesan mendorong atau membujuk. Lantas kalau misalnya “jadi” di mana nanti tempatnya?

“Itulah lah bang di bilik-bilik (sewa) itulah abang sewa, atau abanglah, di sini juga boleh. Kalau abang udah oke, bilang sama kakak ini, intinya oke-sama-okenya,” kata Andi sambil menunjuk sebuah kamar kecil di tempat itu yang biasa digunakan untuk beristirahat saat sepi pengunjung. [nda]

 


Baca juga: Kuburan di atas Pohon, Sebuah Objek Wisata di Samosir