Home Politik Frasa “Orang Gila” dalam Pernyataan Hefriansyah Tuai Kritik

Frasa “Orang Gila” dalam Pernyataan Hefriansyah Tuai Kritik

SHARE
Walikota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor.

isiantar.com — Pernyataan Walikota Pematangsiantar, Hefriansyah, yang berkaitan dengan adanya rencana gerakan people power yang akan digelar di Jakarta pada 22 Mei nanti, mendapat kecaman karena pernyataannya  tersebut dinilai justru menciptakan persoalan baru.

“Harusnya pemimpin itu mengeluarkan kalimat-kalimat sejuk yang bisa menengahi persoalan,  tidak menjustifikasi sebuah gerakan dengan diksi-diksi yang menurut saya tidak menyelesaikan akar masalah tetapi justru menciptakan polemik baru,” kata Direktur Studi Otonomi Politik dan Demokrasi (SoPo), Kristian Silitonga, Sabtu (18/5/2019).

Sebagaimana diketahui, kepada sejumlah wartawan yang bertanya harapan dan imbauannya terhadap warga kota Siantar terkait adanya rencana gerakan people power itu, Jumat (17/5/2019), Hefriansyah mengeluarkan pernyataan kontoversial yang menjadi polemik di masyarakat.

“Orang Siantar ini, kami pemilu pilpres, legislatif di Pematangsiantar aman, tertib, lancar, kondusif, iya, kan? Jadi berbicara people power, sedikit pun masyarakat Pematangsiantar tidak terkontaminasi, gitu. Udah. Jadi kalau ada yang berangkat pun, dan aku yakin gak ada yang berangkat, yang berangkat orang gila itu. Udah, itu aja.” Demikian dikatakan Hefriansyah.

Polemik itu muncul sebab adanya frasa “orang gila” dalam pernyataan Hefriansyah tersebut.

Menurut Kristian, ada batas-batas etis komunikasi dari seorang pemimpin yang harus betul-betul dipahami dan dijiwai. Mengatai ‘orang gila’, menjustifikasi warganya sendiri dengan label tidak waras, itu sama sekali tak pernah bisa menyelesaikan persoalan. Ia mengkritik keras pernyataan itu karena disampaikan seorang kepala daerah.

“Seorang walikota itu harusnya menjadi pamong, pengayom bagi masyarakatnya, bukan malah memanas-manasi situasi, kita tidak butuh statement-statement yang dangkal seperti itu. Walikota atau pemimpin itu semestinya hati-hati mengeluarkan statement, dan statement itu mestinya bisa jadi penyejuk bagi iklim demokrasi yang ada, bukan malah ‘menyiram bensin ke api’,” ujar Kristian.

Dari sisi lain, lanjutnya, pernyataan Hefriansyah yang ada frasa “orang gila” itu juga mencerminkan kapabilitas kepemimpinan Hefriansyah. Menurutnya ada dua hal yang bisa dia tangkap dari pernyataan Hefriansyah itu.

“Pertama, saya khawatir beliau tidak paham apa yang dia katakan. Kedua, pemimpin model seperti itu adalah pemimpin yang cenderung mengurusi hal-hal yang remeh-remeh, kecil, gak penting, dan tidak substansi.

Apakah pernyataannya itu kemudian mendinginkan persoalan, kan enggak, malah menimbulkan persoalan baru, kan. Pernyataannya itu menyakiti orang yang dimaksud tapi tidak menyelesaikan ‘bara’ atau dinamika yang terjadi, kontraproduktif kan?” Ungkap Kristian.

Namun sebagai pengamat sosial politik yang telah lama bertempat tinggal di Siantar, Kristian juga mengaku tidak terkejut bila polemik seperti ini terjadi di masa kepemimpinan Hefriansyah.

“Tapi saya tidak heran dengan pernyataan walikota seperti itu. Karena memang sedari awal saya meragukan kapabilitasnya untuk menjadi pemimpin,” kata Kristian sambil tersenyum mengakhiri. [nda]


Baca juga:

Sumur Di ladang  dan Pangeran Muda, Dua Pantun Hefriansyah di Penetapan Calon Terpilih