Home Opini Danau Toba Destinasi Kelas Dunia, Tapi untuk Jenis Wisata Apa?

Danau Toba Destinasi Kelas Dunia, Tapi untuk Jenis Wisata Apa?

SHARE
Salah satu pemandangan perbukitan di sekitar Danau Toba difoto dari atas kapal. (isiantar/nda).

Oleh: Gabjriel Obeiyel *)

Seperti diperkirakan, kunjungan Jokowi ke Danau Toba di penghujung Juli ini kembali mendapat sambutan hangat masyarakat. Foto-foto kunjungan membanjiri medsos. Ucapannya jadi main issue yang tertoreh di judul-judul berita. Semua itu semacam bukti tambahan betapa besar cinta masyarakat topi tao (sekitar danau) pada presiden Jokowi.

Dan yang menjadi salah satu poin pemberitaan di media pada hari pertama kunjungannya ini adalah, adanya niat pemerintah menjadikan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Menjadikan Danau Toba destinasi wisata kelas dunia, tentulah narasi yang menyenangkan apalagi bagi kita yang sudah hinggap di kompetisi global. Tetapi, meski demikian, sebagai warga sekitar tao yang juga turut mengamati  parwisata di daerah ini, saya kira ada satu hal yang sebaiknya terlebih dahulu dipertegas pemerintah sebelum berbicara soal level yang ingin diciptakan. Satu hal yang saya maksud yakni: kategori wisata apakah yang sesungguhnya akan diletakkan pada kawasan danau vulkanik ini?

Kita tentu tahu di muka bumi ini ada banyak sekali destinasi-destinasi wisata. Dari ujung timur ke barat. Soal orang-orang lebih mengagungkan objek wisata yang ada di daerahnya masing-masing, itu hal wajar. Tapi banyaknya destinasi itu kemudian dipertegas atau dibedakan lewat kategori-kategorinya. Sebab, dari pengkategorian inilah para turis — dalam perencanaan perjalanannya — kemudian memutuskan apakah dia akan berkunjung ke Tibet atau ke Paris, lebih memilih ke hutan Amazon atau ke Macau atau Las Vegas, berbulan-bulan ke Tao Toba atau ke Pattaya, ke Patung Salib atau ke Eifel. Dan adapun kategori-kategori destinasi itu antara lain; wisata budaya, wisata alam/panorama, wisata religi, wisata belanja, ada jenis-jenis wisata lainnya.

Kembali sekedar mengingatkan seperti di tulisan saya sebelumnya, di tahun 80-90an lalu Danau Toba sudah pernah jaya sebagai destinasi wisata budaya dan panorama. Saat itu sudah banyak sekali turis mancanegara (penghasil devisa) yang datang untuk melihat dan untuk merasakan langsung bagaimana hidup di dalam kebudayaan masyarakat di sini. Sebab motif orang-orang yang melakukan perjalanan wisata budaya adalah untuk mengetahui cara hidup dan pandangan hidup masyarakat di daerah yang dikunjunginya itu, yang kemudian itu akan menjadi bahan kontemplasinya setelah kembali ke tempat asalnya. Masyarakat sekitar Danau Toba pun sangat bangga dengan adat budayanya itu. Ditambah dengan panorama yang indah dan air tao yang jernih yang membuat turis gembira berenang di dalamnya. Dulu itu, sektor wisata di sini sudah sukses dalam skala internasional. Skala terluas.

Perlunya terlebih dulu penegasan kategori itu juga penting supaya bisa dengan tepat memilih jenis  proyek yang akan dikerjakan di sini. Juga supaya masyarakat segera paham dan bersiap-siap menyesuaikan diri. Agar sinergis dan sebangun. Penegasan perlu supaya masyarakat (yang sudah pernah hidup dari uang industri wisata ini) dan juga pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat di sini, bisa memahami adakah memang yang sebaiknya dikerjakan untuk membangun sektor wisata di sini adalah kerja-kerja konstruksi, ataukah kerja-kerja recovery? Termasuk apakah sebelum proses pembangunannya itu, ada pihak yang sebaiknya lebih dulu kita mintai pertanggungjawabannya, atau tidak.

Hal lainnya yang juga ada dalam berita terkait kunjungan presiden kali ini adalah besarnya dana pembangunan yang akan digelontorkan. Trilyunan.

Jika memang benar semua dana itu adalah untuk sektor wisata, tentu itu merupakan kabar sangat baik bagi para penggiat industri wisata. Sebab sudah ada buktinya bahwa dengan dana yang besar kawasan kosong yang dulunya cuma padang pasir pun bisa dirobah menjadi destinasi wisata yang sangat terkenal. Contohnya, Dubai.

Artinya dengan dana yang besar, pemerintah lewat kementerian pariwisata seharusnya sudah bisa menyulap daerah-daerah kosong atau yang sebelumnya cuma hamparan gersang tak dikenali, menjadi destinasi wisata yang baru untuk mendatangkan banyak devisa. Selain Dubai, contoh destinasi yang sejarahnya seperti itu juga ada di China dan di Amerika.

Dan dari sudut yang lain juga bisa dilihat, bahwa dengan pasokan dana yang besar itu akn bisa sangat bermanfaat untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Semisal dengan membangun daerah-daerah yang tidak memiliki ciri khas atau kekayaan alam sama sekali, menjadi destinasi yang baru.

Namun tetap saja sama, jika pun ingin membangun destinasi wisata baru yang seperti itu haruslah terlebih dahulu ditentukan kategorinya sedari awal. Supaya pembangunannya fokus dan maksimal. Supaya siapapun yang ada ditempat itu nantinya tidak terkejut dan gagap, dan hasilnya signifikan.

Sebab, dalam perkembangannya kemudian, bisa saja nanti ada sesuatu yang ternyata harus dikorbankan masyarakat, bisa saja nanti ada sesuatu yang ternyata harus direlakan masyarakat. Dan bisa saja sesuatu itu adalah sesuatu yang sangat besar. Oleh karena itu, semuanya harus dibuka sedari awal. (**)

Penulis adalah warga kota Siantar yang pernah berkunjung menikmati Tao Toba