Home Opini Catatan Kecil dari Belakang Panggung Samosir Music International 2019

Catatan Kecil dari Belakang Panggung Samosir Music International 2019

SHARE
Bupati Samosir Rapidin Simbolon di Panggung SMI 2019 saat akan melempar jaket pemberian Jokowi ke kerumunan penonton, Sabtu malam (24/8/2019). (Foto: Dok. Cakapcakapsiantar)

Oleh: Ganda Hutahaean *)

Jumlah penonton yang datang ke Samosir Music International 2019 di puncak acara 24 Agustus kemarin memenuhi seluruh ruang yang tersedia di amphiteater Tuktuk. Bahkan di ruang terbuka yang disebelahnya — tempat stan jajanan dan permainan dadakan — juga sesak dengan kerumunan orang-orang.
Henry Manik yang menjadi salah seorang pionir konser ini harus diakui sudah berhasil. Ia hanya seorang sipil yang menggelar acara tersebut lewat cara “bergerilya”. Ia melakukannya didasari niat yang kini sering dilantunkan banyak pejabat pemerintah: untuk memajukan pariwisata kawasan Danau Toba menuju (atau kembali lagi menjadi?) kelas dunia.
Sebagai warga biasa, Henry sudah maksimal. Ia bekerja hanya dengan tim kecil. Tak punya fasilitas, jaringan, dan kemampuan pengalokasian dana seperti punya pemerintah. Henry pun beberapa kali menyampaikan terimakasih ke seluruh penonton dan ke siapapun yang dia anggap berkontribusi. Baik secara langsung ataupun melalui MC.
Di acara kemarin sejumlah figur pejabat juga mendapat kehormatan untuk tampil di atas panggung dengan ribuan penonton itu. Sebuah pencapaian yang luar biasa.
“Kenapa nggak Abang bikin jadi lebih besar kayak Java Jazz aja, Bang?” Demikian pertanyaan salah seorang warga diaspora Indonesia di Australia ke Henry, sewaktu ketemu ngopi pagi di lobby Samosir Cottages di sela acara tersebut.
Konser lagu Batak yang sudah digelar Henry dkk untuk kelima kalinya itu memang bukan sekadar konser-konseran, atau apalah namanya. Hampir seluruh artis yang tampil punya kompetensi kelas dunia baik dari sisi skill maupun performance.
Maka pertanyaan soal Java Jazz itu menarik. Dan mungkin Henry tak menyadari itu. Meski memang menurut saya Samosir Music International masih jauh dibanding Java Jazz, namun setidaknya embrio ke arah situ sudah terlihat. Setidaknya oleh warga diaspora tersebut, dan saya.
Embrio ini pula yang harapan saya turut dicermati pemerintah. Jumlah penonton konser ini setiap tahunnya terus meningkat, jumlah penampil dan kualitas acaranya juga, serta antusiasme dan apresiasi penonton. Maka itu, apakah tidak sebaiknya jika sarana pendukung untuk konser seperti ini juga ikut ditingkatkan?
Sarana maksud saya contohnya seperti membangun amphiteater yang lebih representatif. Menyediakan tempat parkir yang layak. Serta memastikan agar tak ada lagi kemacetan lalulintas.
Tentu saja termasuk didalamnya memastikan tak ada lagi pemadaman listrik saat acara berlangsung. Menyediakan lampu penerangan di jalan-jalan menuju tempat acara. Memastikan armada transportasi mencukupi dan beroperasi sesuai standar. Selain itu, juga harus sudah mampu pula memastikan tak ada lagi kejadian main serobot antrian, baik di pelabuhan atau dimanapun, dan oleh siapapun.
Dan sepertinya, maksudnya seandainya pun bukan karena telah adanya konser lagu Batak kelas dunia yang rutin yang berhasil dititi oleh Henry yang seorang warga biasa, saya pikir pembenahan untuk hal-hal itu memang perlu untuk sudah dilakukan. Mengapa, karena dari kemarin-kemarin kan kita katanya mau menuju kelas dunia. (*)
Penulis adalah warga Siantar yang sering berkunjung menikmati Danau Toba.

Baca juga: 
Sekedar Mengingatkan, Wisata Danau Toba Sudah Pernah Jaya
Meski Sudah Dikunjungi Jokowi, Parapat Masih Kalah sama PAS Timuran