Home Fokus Aktivis: ‘Kasus Studio Hotel’ preseden buruk bagi Pemko dan DPRD Siantar

Aktivis: ‘Kasus Studio Hotel’ preseden buruk bagi Pemko dan DPRD Siantar

SHARE
(atas) Unjuk rasa SaLing mendesak bangunan Studio Hotel dibongkar, tahun 2016, (bawah) video beredar diduga seseorang dicecoki dengan miras di dalam Studio Hotel, tahun 2017.

isiantar.com – Ditengah pamornya yang sedang melejit lewat kesuksesan menangkap pelaku dan membongkar jaringan pengedar narkoba, Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan tiba-tiba diterpa kabar kurang sedap karena diduga telah mencecoki seorang warga dengan minuman keras hingga warga tersebut kritis. Uniknya, lokasi yang disebut sebagai tempat terjadinya perbuatan kurang terpuji itu adalah sebuah tempat hiburan malam yang sebelumnya oleh AKBP Marudut sendiri telah ia sebut sebagai salah satu lokasi yang akan menjadi sasarannya dalam rangka memberantas narkoba.

“Kalau saya, sudah saya tutup itu Studio Hotel,” demikian kata AKBP Marudut, di sela kegiatan buka puasa bersama dengan insan pers Siantar-Simalungun yang ia gelar di salah satu rumah makan pada 15 Juni 2017 lalu.

Terlepas dari bagaimana tindak lanjut atas dugaan telah mencecoki warga dengan minuman keras itu, banyak pihak khususnya kalangan itelektual yang menilai munculnya persoalan di lokasi hiburan malam yang beralamat di Jalan Parapat itu bukanlah hal yang mengejutkan. Sebab, tempat munculnya kabar tidak sedap yang menimpa Kapolres Simalungun itu berasal dari sebuah bangunan yang memang masih menyisakan polemik sebab diduga didirikan dengan melanggar aturan.

“Ya gak heran (mendengar kabar itu), karena bangunannya juga diduga bermasalah. Karena kita tahu jika sebuah masalah atau kebohongan, jika ditutup-tutupi, hanya akan menciptakan masalah-masalah baru, termasuk seperti dugaan mencecoki warga itu,” ujar Nico Sinaga, salah seorang aktivis Sahabat Lingkungan (SaLing), Jumat (14/5/2017).

Sebagaimana diketahui, sebelum lokasi hiburan malam bernama lengkap Studio Hotel dan Restaurant City diresmikan, sejumlah elemen masyarakat telah menyampaikan protes atas berdirinya bangunan tempat hiburan malam tersebut. Bukan hanya karena diduga akan menjadi tempat peredaran narkoba, tetapi juga mereka berulang kali melakukan unjuk rasa ke Pemko dan DPRD Siantar meminta bangunan itu dibongkar karena melanggar aturan sebab didirikan di kawasan bantaran sungai.

SaLing sendiri telah berulang kali berunjuk rasa termasuk sudah pernah memberi hadiah berupa beberapa helai pakaian dalam wanita kepada Komisi III DPRD Siantar, karena para legislator tersebut diduga telah terlibat dalam konspirasi dengan pengusaha pemilik Studio Hotel yang membuat wakil rakyat tersebut tidak berani menindak bangunan yang diduga melanggar aturan itu.

Unjuk rasa SaLing menuntut Studio Hotel dibongkar pada tahun 2016.

“Kalau kami ya melihat ini secara berhubungan, peristiwa sekarang tidak terlepas dari sejarah dibelakangnya. Kalau saja Pemko dan DPRD mau taat menegakkan peraturan, masyarakat tidak akan perlu mendengar informasi-informasi memalukan seperti warga yang dicecoki miras itu. Makanya kami bilang kasus di Studio Hotel itu preseden buruk bagi Pemko dan DPRD Siantar,” jelas Nico. [**]